Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

Perlawanan Rakyat Banjar atau Pangeran Antasari pada Perang Banjar

Gambar
Perang Banjar  diawali dari perebutan takhta yang terjadi di dalam keluarga Kesultanan Banjar. Sultan Adam yang meninggal pada 1857 mewariskan takhta kepada Pangeran Hidayat. Namun, Belanda di bawah Gubernur Jenderal Rochussen ikut campur menentukan pewaris takhta tersebut. Sultan Adam cenderung untuk memilih Pangeran Hidayatullah. Alasannya memiliki perangai yang baik, taat beragama, luas pengetahuan, dan disukai rakyat. Sebaliknya Pangeran Tamjid kelakuannya kurang terpuji, kurang taat beragama dan bergaya hidup kebarat-baratan meniru orang Belanda. Pangeran Tamjid inilah yang dekat dengan Belanda dan dijagokan oleh Belanda. Belanda menekan Sultan Adam dan mengancam supaya mengangkat Pangeran Tamjid. Belanda menginginkan Pangeran Tamjid Ullah menjadi sultan karena Belanda mengharapkan izinnya untuk menguasai daerah pertambangan batu bara yang berada di wilayah kekuasaan Pangeran Tamjid Ullah. Belanda kemudian mengangkat Pangeran Tamjid Ullah sebagai sultan dan Pangeran Hidayat ...

Peranan I GUSTI KETUT JELANTIK melawann VOC pada saat Perang Puputan (Perang Bali)

Gambar
Kisah heroik I Gusti Ketut Jelantik hingga kini masih lekat dalam ingatan sebagian besar warga Kabupaten Buleleng , Bali. Sebab, ketika rakyat Bali menyatakan perang puputan (perang hingga titik darah penghabisan), Gusti Ketut Jelantik memimpin pasukan di Kabupaten Buleleng untuk mengusir penjajah. Ia mengembuskan napas terakhir pada pertempuran perang puputan yang selalu dikenang publik Bali. Kisah I Gusti Ketut Jelantik  dirajut dengan apik oleh Yayasan Pelestarian Bali Utara. Beberapa peninggalannya seperti keris yang digunakan untuk berperang, saat ini masih tersimpan dalam museum yang terletak di Kabupaten Buleleng tersebut. I Made Palija, pengelola museum menuturkan, kala perang puputan bergolak, I Gusti Ketut Jelantik merupakan patih di Kerajaan Buleleng yang dipimpin oleh I Gusti Made Karangsem pada 1825. Kala itu, imbuh Palija, Belanda menuntut agar Raja Buleleng mengganti kerugian atas kapal-kapal Belanda yang dirampas. Perampasan tersebut sesuai dengan hukum...